Lisa Adriani –> My Blog….

Mencari dan Memberi yang Terbaik

Desain grafis bikin cerpen……

June21

Ibukota oh Ibukota

Pagi ini, aku membantu Ibu untuk menyiapkan sarapan. Suasana di ruang makan begitu berisik oleh suaraku.

“Ibu, liburan semester besok ke Jakarta ya.! Teman-teman Cha liburannya pergi ke sana Bu.”

“Kamu kira Jakarta itu dari sini ke rumah Uni Irma.?”

(Uni Irma adalah kakak sepupuku yang tinggalnya tidak jauh dari rumahku.)

“Ya nggak lah Bu. Dari sini ke rumah Uni jalan kaki juga bisa Bu.”

“Nah, itu kamu tahu. Ayo, habiskan sarapanmu.! “

Dengan tergesa-gesa aku menelan nasi goreng yang baru saja kumasukkan kedalam mulutku.

“Maksud Ibu berat di ongkos ya Bu.?!”.

“Sudahlah.! Pagi-pagi obrolannya tentang Jakarta. Sudah setengah tujuh nanti ke sekolah nya telat.” Ibu melihat ke arah jam tangannya.

Abangku yang dari tadi mendengar pembicaraanku dengan Ibu tiba-tiba keluar dari kamarnya.

“Semalam mimpi ke Jakarta ya.? Udah keliling Jakarta kemana aja.? Kasihan ya, yang belum pernah ke J-A-K-A-R-T-A.!”

pengucapan kata Jakarta dengan penggalan seperti itu seakan menyindirku.

“Maksudnya apaan.? yang dapat tumpangan mobil gratis ke Jakarta.!”

sebuah balasan yang cukup untuk Abangku yang satu ini.

“Biarin dari pada gak pernah kesana.!”

“ha-ha-ha-ha, pembelaan diri yang lumayan.!” Cibiran jengkel pun melayang ke arahnya.

Ayahku yang dari tadi hanya memperhatikan, sekarang ikut ambil suara.

“Hhhmmmmm.!!!!”

Aku dan Abangku terdiam dan menunduk.

***

Pulau Jawa, tepatnya Jakarta merupakan tempat idaman sebagian orang yang ingin mendulang sukses di Ibukota. Di bidang pendidikan pulau jawa terkenal keunggulannya dan bagi teman-temanku Jakarta tempat yang menarik untuk liburan dan berekreasi. Di Jakarta, apa pun akan dilakukan demi mendapatkan penghidupan yang layak. Di media masa Jakarta identik dengan keramaian, kemewahan, kesuksesan serta hitam putihnya kehidupan.

“Aaaaaahhhhhhh..!!!!!!!” Teriakkan hati kecilku.

Mendengar dan melihat semua itu menambah semangatku untuk pergi ke kota tersebut.

Ibuku menganggap ke Jakarta hanya untuk berlibur itu sama dengan boros. Aku mengerti alasan Ibu, tetapi keinginan yang dulu dan sekarang telah berubah seiring bertambahnya umur dan pola pikirku. Dulu, Aku ingin ke Jakarta hanya untuk bermain. Sekarang, bermain itu berubah menjadi suatu masa depan yang ingin aku raih di Pulau Jawa.

Namaku Aurumannisa, orang tuaku memberi nama itu karena diambil dari bahasa Yunani dan Arab. Pada sistem periodik unsur-unsur kimia, Aurum artinya emas. Sedangkan Annisa artinya Perempuan, jadi suatu saat aku harus bisa jadi anak perempuan yang sukses, mandiri, dan menjadi kebanggan bagi orangtua. Aku lahir pada tanggal 13, angka yang cukup fanatik bagi sebagian orang. Banyak diantara mereka yang berpendapat angka ini merupakan angka yang kurang beruntung atau lebih tepatnya angka sial.! Aku tidak tahu seberapa sialnya angka tersebut sehingga, telah mengubah pandangan mereka terhadap angka. Tapi, menurut sebagian orang cina 13 adalah angka keberuntungan. Perdebatan sengit selalu terjadi diantara teman-temanku ketika angka ini muncul disekitar mereka. Baik dipermainan, nilai, skor atau apa saja yang menyangkut dengan angka 13. Bagiku itu tidak menjadi masalah seperti air yang mengalir, jalani saja kehidupan ini.

“Life must go on.!”

Itulah sifatku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang akan membuatku down.

Disaat Ayah pulang bekerja, Aku selalu bercerita mengenai hal-hal yang terjadi di sekolah. Tubuhku yang kurang tinggi dibanding teman-teman seusiaku juga pernah menjadi bahan ledekkan

Tapi Ayahku selalu berkata :

” Tidak ada manusia yang sempurna, Ada kekurangan pasti ada kelebihan dan kelemahan itu bisa menjadi kekuatan.”

Karena kelemahan itu membuatku mempunyai cita-cita dan keinginan yang besar. Salah satunya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Jalur penelusuran minat dan bakat (PMDK) pun akan kuikuti.

***

Berpisah dengan keluarga yang dicintai untuk menuntut ilmu kenegri orang. Itulah yang sedang kualami. Sekitar 1 tahun yang lalu, setelah dinyatakan lulus UN dan PMDK sebagai mahasiswa Diploma IPB dengan jurusan manajemen informatika. Tanpa berpikir panjang Aku langsung memutuskan untuk berangkat ke Bogor secepatnya. Ini merupakan impianku dari dulu, melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya diluar tanah kelahiranku Padang, Sumatra Barat.

Seperti Pepatah minangkabau :

“Sayang ka anak diberangi, sayang ka kampuang ditinggakan.!”

Artinya, sayang pada anak di marahi, sayang pada kampung halaman ditinggalkan.

Perantauanku dimulai dari sini, pertama kalinya menaiki pesawat dan menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Ketika take off dibandara Soekarno-Hatta Cengkareng, jam telah menunjukkan pukul 20.30 wib. Pemandangan Ibukota dimalam hari begitu bagus, bermandikan cahaya-cahaya lampu yang menyilaukan mata. Keluar dari bandara, aku menaiki Damri menuju Lebak Bulus karena saudaraku menunggu disana. Dari Lebak Bulus Aku, Ibuku dan saudaraku ke rumah Bibi yang di Ciputat. Kami akan menginap sementara waktu disana. Kedatanganku disambut Bibi beserta keluarganya dengan ramah. Tapi karena telah larut malam, aku dan Ibuku dipersilakan untuk tidur di kamar tamu yang telah disiapkan.

Keesokkan paginya, Om Herman adik bibiku dan manda anaknya Om Herman datang ke rumah Bibi dan mengajak Aku dan Ibuku untuk jalan-jalan melihat kota Jakarta. Monas (Monumen Nasional) adalah tempat pertama yang kami kunjungi.

“Waaaaahhhhh, ini sungguh nyata.!” Bergumam kagum sambil melihat pada kokoh nya monumen tersebut.

Penantianku selama bertahun-tahun bisa terwujud. Sayangnya, kami tidak naik keatas monas yang katanya kalau dari atas bisa melihat seluruh kota Jakarta.

Mengitari halaman Monas yang cukup luas, tidak terasa udara sudah semakin panas. Kamipun kembali ke parkiran mobil dan rencananya kami akan menunaikan shalat zuhur di Mesjid Istiqlal. Tetapi, ketika membuka pintu mobil Aku melihat pedagang asongan dan kaki lima yang ada didekat taman Monas berlarian. Aku kaget dan mencoba melihat apa yang terjadi. Ternyata, segerombolan Satpol-PP datang dan merazia dagangan mereka. Om Herman hanya tersenyum melihat situasi ini dan berkata….

” Oooww, ini sih udah pemandangan biasa.!

“Ya sudah naik.! kita mau sholat nih.” Tukas Om herman.

Inilah realita kehidupan di Ibukota, nikmat dari ALLAH SWT terasa begitu besar. Demi kelangsungan hidup, kaki yang diberikan mereka gunakan sebaik-baiknya. Berlari secepat mungkin untuk menghindari kejaran aparat hukum.

Mobil pun di stater oleh Om Herman, kami pun pergi meninggalkan Monas dan pergi menuju Mesjid Istiqlal.

Sesampai di Mesjid Istiqlal ………

Subhanallah..!” Ucapku kagum

Bangunan yang luas, megah, banyaknya pintu masuk, petugas yang berjaga ditempat penitipan sendal, sepatu dan barang lainnya menggunakan pakaian seragam. Kran air yang banyak membuat jamaah untuk tidak antre terlalu panjang ketika mengambil air wudhu. Seusai shalat, aku melihat jam dinding besar yang berada didepan shaf pria menunjukkan pukul 14.30 wib. Perjalanan dilanjutkan ke Bogor, karena kami akan melihat kosan dan kampus tempatku akan menuntut ilmu.

Sekarang baru ku menyadari bahwa, kata-kata dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan benar terjadi padaku. Aku tidak hanya berlibur beberapa hari saja di Jakarta. Tetapi telah tinggal dan menetap untuk tiga tahun kedepan di Pulau Jawa ini.

***

posted under Academic | 5 Comments »

rajin,,, hari minggu bikin blog..!!! :-)

June13
posted under Academic | No Comments »